Antara Makan, Nonton, Wisata, dan Hidupku

Jangan Hanya Tarifnya Yang Internasional!

Keberadaan sekolah berstandar internasional menjadi fenomena menarik dunia pendidikan di Indonesia serta menjadi perbincangan tersendiri bagi banyak orang. Sekolah ini memang berbeda dari sekolah konvensional alias sekolah biasa. Dari metode dan kurikulumn pembelajarannya saja, diadaptasi dari luar negeri jadi wajar jika menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar. Nah kalau sekolah-sekolah biasa satu rombongan belajar maksimal 30 sampai 40-an, tapi kalo di sekolah yang ”wah” ini , siswa per kelasnya paling banyak 24 orang. Semua fasilitas juga serba wah! Ruang kelas dilengkapi LCD Proyektor dan Laptop sehingga sang guru tidak perlu menulis menggunakan kapur di sebuah papan tulis, tingggal klik saja. Kelas internasional juga dilengkapi AC sehingga para siswa tidak perlu kipas-kipas dengan tangan, karena suasana yang sejuk. Dan yang paling menonjol dan menarik banyak orang adalah “tarifnya yang juga ”internasional”.

Bagaimana tidak bertarif internasional? Di tahun pertama saja, para orangtua wajib membayar puluhan juta hingga ratusan juta, tergantung sekolah yang ditujunya dan juga pada tahun kedua dan ketiga di jenjang SMP maupun SMA. Katanya sih, biaya sebesar itu untuk membeli buku, membayar honor guru, biaya perawatan sarana dan prasarana serta biaya ujian. Weleh-weleh, sekolah kok mahal-mahal amat! Tentunya, para orangtua yang hendak menyekolahkan buah hatinya ke sana perlu berfikir ulang mengenai biayanya.

Memang UU No.20 tahun 2003 dalam pasal 50 ayat 3 dinyatakan dengan sejelas-jelasnya bahwa pemerintah atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan bertaraf internasional. Namun tidak dapat dipungkiri lagi akan muncul rasa was-was akan keberhasilan mewujudkan lembaga pendidikan yang bertaraf internasional dari pihak tenaga pendidik. Tentu saja dari pendidik patut untuk dicemaskan, karena “Kalau kualitas pendidik masih rendah mana mungkin akan menghasilkan produk yang berkualitas internasional”.

Bayangkan jika yang fasih berbahasa Inggris saja hanyalah guru Bahasa Inggris, sedangkan yang mahir mengoperasikan komputer baru beberapa guru dan yang memahami metode pembelajaran internasional belum ada. Gubrak, bagaimana dong! Apa kita akan berpegang teguh pada pepatah “Tiada rotan akarpun jadi!” Lalu bagaimana outputnya? Padahal di kelas internasional ini diharapakan dapat diterapkan proses pembelajaran TIK pada semua mata pelajaran, menggunakan bahasa Inggris secara aktif khususnya pada mata pelajaran sains, matematika serta teknologi.

Tentunya perlu dibenahi dan dilakukan peningkatan mutu pengajar sehingga dapatlah menerapkan kurikulum internasional ini, sehingga tidak asal mendirikan kelas internasional tanpa memperhatikannya. Kalau pengajarnya sudah berkualitas, barulah terciptalah siswa yang berkualitas dan berdaya saing secara internasional. Kalau hanya tarifnya saja yang internasional, sedangkan mutu pengajar tidak di-internasionalkan juga, apa kata dunia! (Mukti)

2 responses

  1. Pak Boz…
    Postingannya kamu beri tag. Biar google ma orang-orang bisa nemuin blog ini.

    5 Juli 2008 pukul 21:18

  2. rin

    Lama2 kalo kyk gini teruz mending g sah skul aja… niatnya mau nyari ilmu dan bisa lebih maju n berkembang …..eh,skolahnya malah nyari kesempatan buat meres siswanya….
    contohnya aja skul kita tercinta….

    padahal syarat2 bwt fullday aja lom terpenuhi smua tapi da brani bwt program itu…. apa g salah tu???

    7 Juli 2008 pukul 20:09

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s