Antara Makan, Nonton, Wisata, dan Hidupku

Tunggulah Aku, Nasa !

Namaku Adit, aku hanya seorang siswa SMA biasa yang kebetulan saja merupakan personel dari sebuah band bernama Licentia yang lumayan populer di sekolah dan kota kami. Suatu saat kami mendapat order manggung di Orange Cafe pada malam Minggu. Wah tentu saja kami senang akan hal itu. Berminggu-minggu itu kami mulai berlatih rutin agar penggemar kami tidak kecewa. Tiba-tiba aku mengeluh pusing dan rasa sakit yang hebat di kepalaku. Kata Nasa, aku roboh dan tak sadarkan diri waktu itu. Rio, vokalis bandku kebingungan dan langsung menelepon ambulans, lalu aku dibawa ke rumah sakit terdekat.

Sumpah aku tidak ingat apa-apa lagi tentang semua itu. Yang aku tahu aku kehilangan posisi di bandku. Padahal acara itu tinggal seminggu lagi. Aku sekarang hanya mahkluk lemah yang duduk di atas kursi roda, entah kenapa kakiku tak dapat digerakkan lagi. Nasa dengan senang hati mengantarkan aku kemana-mana dan mendorong kursi rodaku. Satu hal yang berubah Nasa sekarang tambah cerewet terutama dalam hal kedisiplinanku makan dan minum obat. Aku sering dipaksa minum obat secara rutin. Padahal aku benci obat, pernah juga aku hanya berpura-pura saja minum obat yang diberikannya, obat itu hanya aku tahan di bawah lidah dan aku buang ke asbak. Nasa tahu hal itu, dia terus menangis.

Teman-temanku di band juga semakin menunjukkan perhatiannya yang kadang aku rasa terlalu berlebihan padaku. Yang paling mengherankan, aku bahkan mereka ajak latihan lagi, kali ini mereka suruh aku menyanyi , berduet dengan Rio. Kami menyanyikan Punk Hari Ini, lagu favoritku. Padahal dulu sama sekali kami tidak pernah menyanyikan lagu ini waktu latihan. Karena band kami ini band beraliran pop manis. Bukan bingar-bingar seperti Superman Is Dead, ajakanku sekali-kali menyanyikan lagu ini juga mereka tolak dengan alasan itu. Tapi kali ini kenapa mereka tiba-tiba mengajakku memainkan lagu ini? Hmm ada apa ya dengan mereka? Ah peduli amat . . .

Masih di atas kursi roda, aku dan Rio berduet menyanyikan lagu itu di studio, ternyata kualitas vokalku nggak kalah dengan Rio, memang karakternya beda banget. Tapi menurutku, kami berdua bisa jadi duet yang baik sebenarnya. Aku lalu tawarkan padanya, bagaimana kalau kelak aku sudah normal lagi, kita nyanyikan lagu ini bareng-bareng di panggung. Rio hanya tersenyum dan mengangguk Tapi hei, kenapa dia kemudian menangis juga? Dia lalu memelukku erat sekali dan berjanji akan memenuhi permintaanku itu.
Aku semakin terheran-heran, Andre juga ikut-ikutan menangis. Hei ada apa ini? Kenapa semuanya tiba-tiba begini terhadapku?
“Aku akan baik-baik saja, Ndre!”. aku mencoba meyakinkan Andre sang gitaris
“Dokter bilang, aku akan segera sembuh kok”.
“Sikap kalian kok seperti menghadapi orang yang mau mati begitu sih”

Dan akhirnya malam itu datang juga. Bandku benar-benar manggung di Orange, dengan seorang pemain bass baru yang direkrut managemen band untuk menggantikan aku. Kafe yang sebenarnya tidak terlalu besar itu penuh sesak. Aku juga datang, dengan masih di atas kursi roda dan Nasa yang dengan setia mengantarku. Aku dan Nasa duduk di depan panggung yang merupakan tempat duduk VIP. Entah mengapa dalam hatiku ada suatu perasaan yang tidak enak ketika melihat posisiku kini telah digantikan oleh seseorang, Nasa menanggapi hal itu dari sorot mataku
“Dit, aku tahu kamu pasti sedih ketika posisimu dimainkan oleh orang lain”
“Meskipun, kini kamu enggak main lagi, kamu masih di hati mereka kok dan takkan tergantikan siapa pun, lagian ini kan hanya untuk sementara!”
Aku hanya mengangguk dan melihat mereka kembali. Usai lagu keempat, tiba-tiba kudengar. Hei intro lagu ini, ini Punk Hari Ini, lagu favoritku. Kudengar juga, Rio mempersilahkan aku ke panggung buat duet dengannya menyanyikan lagu yang selama ini aku mimpikan untuk kubawakan di atas panggung, dan selalu mereka tolak. Tapi malam ini impianku itu terwujud juga meski aku masih di atas kursi roda. Dengan semangat aku menyanyikan lagu favoritku dengan suara rocker dan serakku yang tak kalah dengan Rio.
Waktu terus berjalan, tiada yang disisimu
Ingin keluar tuk dapatkan Pemikiran baru
Kukesal hari ini, melihat disekitar, semuanya sama dan seragam
Korban dari majalah . . . .

Setelah lagu ini selesai para penonton bertepuk tangan. Aku lalu pulang bersama Nasa yang mengantarku dengan mobilnya. Di perjalanan, aku dan Nasa tak henti-hentinya seperti orang gila berteriak-teriak mengikuti alunan lagu Crawling In the Dark. Aku tersenyum, dan tanpa kusadari setitik air bening jatuh dari air mataku. Ya aku menangis karena karena bahagia sekali punya teman seperti Nasa, orang yang menemaniku dalam tangis atau tawa. Bahkan dalam keadaanku yang sudah seperti ini sekalipun. Nasa mengantarku sampai masuk ke rumah. Bahkan disertai tangis dan nasihatnya yang setengah memaksa agar aku tidak lupa minum obat lagi.
“Dit, kamu harus minum obat ya! Awas kalau tidak diminum!”
“Iya deh Nasa yang cerewet, aku akan minum obatku kok, supaya aku segera sembuh dan bisa main dan menghabiskan waktu lagi sama kamu tanpa direpotkan lagi dengan kursi roda dan penyakit sialanku ini”

Nasa pulang dengan mobilnya. Aku masuk kamar, meminum obat dan tiba-tiba aku merasakan sesuatu di kepalaku yang terasa sakit ini aku kemudian merasakan tubuhku semakin lemah, lemah dan kemudian gelap. Aku tersadar di sebuah tempat yang rasanya mirip tempat tidur, dan aroma obat yang khas sepertinya ini kamar di sebuah rumah sakit, tapi kenapa pandanganku masih gelap? Aku tidak bisa melihat apa-apa di sini. Kepalaku juga masih terasa berat tapi secara samar-samar kudengar suara yang kukenal baik. Sepertinya dia Mamiku, Rio, dan teman bandku yang lain juga di sini. Lho, tapi kenapa tak kudengar suaranya Nasa? Biasanya selalu kudengar tawanya yang renyah dan celetukannya yang selalu membuatku tertawa. Dia tidak ada di sini di mana dia? Dengan suara menggumam dan tidak jelas kutanyakan keberadaan Nasa kepada Mamiku. Tapi beliau tidak menjawab.

Tubuhku masih terasa lemah dan aku masih duduk di atas kursi roda. Tapi hari ini Rio mengantarku ke suatu tempat yang katanya adalah makamnya Nasa. Tempat peristirahatan terakhir dari orang yang selama ini menjadi teman hati dan teman jiwaku ini. Teman yang paling mengerti aku dan selalu membantuku dalam kesusahan. Dari cerita Rio pula, akhirnya aku tahu kalau kecelakaan tragis telah memanggil Nasaku yang baik untuk selama-lamanya malam itu, malam setelah bandku manggung di Orange Cafe, setelah Nasa mengantarku pulang ke rumah.
Herannya, aku tidak menangis sedikitpun, meski kuakui hatiku benar-benar hancur dan kesedihan yang teramat sangat membuat dadaku semakin sesak. Aku yakin, tak lama lagi di kehidupan yang lain meski bukan dunia ini tentu saja, aku akan kembali bersamanya. Tunggu saja aku, aku takkan membiarkan kamu kesepian di sana.

“Licentia sebenarnya adalah nama bandku saat kelas X, personelnya semua satu kelas yakni X-C. Aku sebagai Vokalis, Cahya sebagai Drummer, Agung pada Gitar dan Jekri pada Bass. Meskipun saat itu tidak pernah manggung, kami semangat latihan bersama. Sampai naik kelas XI, dan mereka mendirikan band baru, dan aku hix hix hix . . . .”.

One response

  1. Riski

    Hix…hix sedih banget cerpennya……..

    27 Juni 2008 pukul 11:29

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s