Antara Makan, Nonton, Wisata, dan Hidupku

Alif Story#1:Inilah Aku…

Aku masih belum percaya kalau sekarang hari Senin, padahal semalam aku mimpi manis sekali bertemu Dewi Perssik, artis idolaku Sumpah males banget bangun di hari paling kejam sedunia ”Senin”! Gimana tak kejam? Selama satu jam lebih, aku dipanggang namun bukan di atas bara api seperti ayam panggang tapi di lapangan basket, demi mengikuti upacara bendera. Eits, jangan berfikir negatif dulu, rasa nasionalismeku tinggi banget, saking tingginya aku hormat ke Sang Saka Merah Putih lebih dari anak-anak lain yakni selama setengah jam. Hehehe, hebat banget kan? Tapi sayangnya aku tidak bersama teman-teman lain, aku dihukum sama petugas Tatib karena datang kesiangan, tepatnya saat upacara sudah selesai.

Yup, rekor datang terlambat memang masih aku yang pegang. Mungkin jika Museum Rekor Indonesia alias MURI mau mencatatnya, mungkin aku bakal diberi piagam penghargaan dech. Padahal tadi malam sudah aku setel jam bekernya, tapi emang dasarnya aku kebal dengan dering jam, jadi tidak kedengaran deh. Tapi berkat suara cempreng nyokap ampe tujuh oktaf kayak gita gutawa, aku bisa terbangun. Perlu diketahui juga, ibuku pernah mengikuti lomba Bintang Radio di tahun 70-an, tapi aku sungkan untuk menanyakan dapat juara berapa.

Aku masih mengucek kedua mataku yang penuh dengan belek. Dan kulihat samar jam menunjukkan pukul tujuh lebih seperempat. Wow, ada kemajuan nih lebih cepat dua menit dari minggu kemarin.

”Lif, ibu berangkat dulu!”

”Ya, buk!”

Dengan bergegas aku mandi, tapi eits mana sabunnya? Wah, nyokap pasti lupa beli sabun nih. Tapi Tunggu dulu, mana nih odolnya? Ampun deh, nyokap lupa lagi nih. Byur, Byur. Air saja sudah cukup bagi aku yang dasarnya udah tampan (kata bokap sih, tanpa kacamata tebalnya) jadi tidak perlu mandi, sudah terlihat cool. Setelah mandi langsung aku bergegas memakai seragam abu-abu putihku dan siap berangkat ke sekolah.

Untung saja orangtuaku tidak tahu bahwa masuk sekolah adalah pukul tujuh tahunya mereka aku berangkat sekolah titik. ”Oh, ibu dan ayah selamat pagi, ku pergi belajar sampai kan nanti! Selamat belajar nan penuh semangat rajinlah selalu tentu kau dapat, hormati gurumu sayangi teman. Itulah tandanya kau murid budiman.” Cuplikan lagu itu sepertinya kurang pas denganku, karena kedua orang tuaku telah berangkat kerja. Bokap bekerja di kantor kecamatan, sedangkan Nyokap bekerja sebagai buruh pabrik rokok.

***

Dengan sebuah sepeda kuno peninggalan kakeknya bokap, aku berangkat ke sekolah. Sesampainya di sekolah upacara telah berlangsung “Wah, sudah mulai nih upacaranya” ucapku dalam hati. Hari Senin tidak lengkap tanpa kehadiran Tatib tapi satu-satunya Tatib yang menarik perhatianku adalah Pak Takur tapi. Setiap berbicara selalu membuatku menjadi silau. Gigi emas 24 karat memancarkan sinar terang.

Perlu aku tegaskan, aku berbakat sekali menjadi artis sinetron bahkan mengalahkan Farel di Cinta Fitri atau Reno di Cinta Bunga atau juga Rafi di Azizah.

”Kamu datang jam segini!”

”Maaf, pak” jawabaku dengan wajah tertunduk

Tapi sialnya, bakat aku tidak dapat aku keluarkan karena sinar itu benar-benar membuatku tidak konsen. Aku tertunduk juga bukan karena takut, tapi karena silau dengan gigi emasnya itu. Dengan segera Pak Takur menyuruhku mengikuti upacara, tapi tidak di barisan teman-temanku tapi menghadap teman-temanku.

Tak sedikit yang tersenyum melihatku, memang tak dapat kupungkiri lagi wajahku memang cute abis (kalau ini kata nenek yang sulit membedakan mana yang ganteng dan tidak karena faktor usia). Tapi sepertinya mereka tidak tersenyum melihat aku yang cute, tapi resleting celanaku belum ”diseleretkan”. Sontak saja, aku segera membenarkannya.

Untung saja pagi ini agak mendung, mungkin langit masih kasihan denganku. Tapi eits, langit mendung itu segera berlalu. Panas matahari dengan segera menyengat kulitku. Kata pak guru, cahaya matahari pagi hari tuh bisa mengubah provitamin B menjadi vitamin B, katanya sih……tapi kalau caranya begini bukannya jadi sehat malahan jadi gosong. Tadi sebelum berangkat aku lupa mengoleskan sun block ke sekujur tubuhku. Jadilah pagi ini hari siksaan bagiku.

***

Syukurlah penyiksaan ala Praja IPDN ini telah selesai, dan senang juga tidak dihukum seperti biasanya, hormat ke bendera. Kali ini jam pelajaran Bahasa Indonesia, satu-satunya pelajaran yang kusukai dibandingkan yang lain. Itung-itung semangat nasionalisme, lebih cinta bahasa sendiri dibanding bahasa asing. Bu Ina, guru bahasa Indonesiaku tiba-tiba memberikan materi mengenai mengarang cerita. “Senang sekali rasanya!” gumamku dalam hati.

Ibu Ina orangnya sabar sekali, selalu care pada muridnya khususnya aku dengan bakat mengarang yang lumayan. Lumayan ancur maksudnya! Aku jadi teringat saat SD, tepatnya saat kelas 4. Di saat mengarang, aku berhasil mengarang cerita yang menjadi perhatian guruku saat itu. Aku menulis kisah hantu gentanyangan yang dulunya mati karena jatuh dari gedung 12 lantai. Terlalu sadis bagi anak kelas 4 SD. Hahaha tapi itulah aku.

Pelajaran mengarang pun usai kini pelajaran selanjutnya adalah Matematika, salah satu pelajaran yang membuatku ngeh. Setiap pelajaran Matematika, tak pernah aku memalingkan diri dari buku catatanku. Tapi aku bukan mencatat atau pun membaca lho! Aku lebih senang menggambar karakter komik dibandingkan mencatat rumus-rumus yang selalu membuatku pusing tujuh keliling. Ingin rasanya bel pulang berdering, ingin segera menamatkan game PS favoritku Final Fantasy VII yang tadi malam hampir saja aku tamatin tapi tapi gara-gara nyokap ngotot pengen nonton Cinta Fitri, terpaksa deh aku matiin PS bututku daripada aku dikutuk kayak Malin Kundang.

Sekali lagi inilah hidupku dan inilah aku yang serba berantakan. Oh ya sampai lupa berkenalan, Namaku Alif Ba Ta Tsa Ja Kha Kho. Tunggu ya kisah selanjutnya!n

2 responses

  1. sys

    LuCu deC Bacax, BuT KmU NgaK Suka Tlat ScUl kHan wkwkwkw.

    5 Oktober 2008 pukul 15:46

  2. syukur deh mbak, coz biasanya q seneng nulis yang sad ending ato yg menyedihkan geeto deh………

    lumayan sih mbak……gak sering………..dulu pas pas kelas X \, lumayan sering.

    5 Oktober 2008 pukul 18:54

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s